Pejuang Geologi Ditembak Mati di Lereng Merapi

The Author 7/08/2017
Konten [Tampil]
Arie Frederik Lasut

Tak banyak yang bisa menjadi seperti Arie Frederik Lasut. Ia dikenal sebagai sosok muda yang sangat berbakat dalam bidang geologi dan pertambangan. Belanda berkali-kali merayunya agar bersedia bekerjasama mengeksplorasi perut bumi Indonesia yang memang kaya-raya. Namun, Lasut pantang terhasut. Ia selalu menolak ajakan tersebut.

Lasut bukan hanya ahli geologi, tapi juga seorang yang sangat setia terhadap tanah airnya. Ia sebenarnya mau-mau saja membantu Belanda jika hal itu juga diminta oleh pemerintah RI. Tapi, jika harus menggadaikan nasionalisme hanya demi kepentingan diri sendiri, Lasut tidak sudi.

"Kalau pemerintah Republik lndonesia memerintahkan saya untuk bekerjasama dengan tuan-tuan dari Belanda, maka saya akan mematuhinya demi pemerintah dan rakyat lndonesia,” begitu ucap Lasut suatu kali (Umasih, Sejarah Pemikiran Indonesia Sampai dengan Tahun 1945, 2006:61).

Namun, Indonesia yang baru saja merdeka saat itu tentu saja tidak ingin jatuh ke dalam cengkeraman Belanda lagi. Baru sesaat rakyat Indonesia menghirup udara kemerdekaan, Belanda dengan topeng barunya, NICA, keburu datang. Lasut pun ikut berjuang meskipun pada akhirnya ia harus mati muda lantaran menampik kehendak Belanda.

Cerdasnya Anak Minahasa

Arie Frederik Lasut adalah putra asli Minahasa, Sulawesi Utara. Lahir pada 6 Juli 1918, ia adalah anak sulung dari 8 bersaudara. Lasut dikenal cerdas sejak kecil. Setamat sekolah dasar di Hollands Inlandsche School (HIS) Tondano sebagai juara kelas, ia memperoleh beasiswa ke Hollands Inlandsche Kweekschool (HIK), sekolah pendidikan guru di Ambon, Maluku.

Prestasi Lasut terus berlanjut. Tahun 1933, ia lulus sebagai salah satu siswa terbaik dan terpilih meneruskan studi ke HIK Bandung (Sejarah Pendidikan Daerah Maluku, 1980:6). Di masa remaja yang baru memasuki usia 15 tahun itu, Lasut sudah merantau ke Pulau Jawa yang jauh dari kampung halamannya di utara Sulawesi.


Belum lama sekolah di Bandung, minat Lasut untuk menjadi guru rupanya mengendur. Profesi mulia itu ternyata bukan cita-citanya. Lasut menempuh pendidikan di sekolah guru hanya untuk menyenangkan kedua orang-tuanya, terutama sang ayah yang memang seorang guru sekolah dasar.
Lasut justru mulai tertarik berkecimpung di ranah pergerakan berkat pergaulannya yang semakin luas di Kota Kembang. Banyak siswa HIK Bandung yang terpengaruh dalam pergerakan nasional, Lasut termasuk salah satunya (Mardanas Safwan, Arie Frederik Lasut, 1982:23).

Bersusah-payah Demi Kuliah

Atas dasar lasut akhirnya meninggalkan Bandung dan migran ke Batavia (Jakarta). Di kota yang merupakan centrum Gerakan Nasional, Lasut memutuskan untuk melanjutkan studinya yang telah terputus di Bandung. Namun, bukan di sekolah guru, ia memilih untuk memasuki sekolah menengah negeri, Algemeene Middelbare School (AMS) dan lulus pada tahun 1937.

Lasut tertarik dengan bidang kedoktran kala itu. Dia juga mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa di Geneeskundige Hoogeschool Te Batavia. Ini adalah Cikal dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Sayangnya, lasut gagal menyelesaikan perguruan tinggi karena kesulitan dana (album Pahlawan Bangsa, 1983: 60).

Untuk bertahan dan menjaga harapan untuk melanjutkan perguruan tinggi lagi, Lasut mencari pekerjaan. Untungnya, dia diterima untuk bekerja di Departemen Van Ekonomische Zaken atau Departemen Urusan Ekonomi Hindia Kolonial Belanda.

Pada tahun 1938, Lasut kembali mencoba peruntungannya di bangku kuliah. Dia kembali ke kota bunga untuk belajar di Techniche Hoogeschool Te Bandung atau yang sekarang The Bandung Institute of Technology (ITB). Namun, masalah yang sama memukulnya. Sekali lagi, kondisi keuangannya memburuk dan memaksanya untuk keluar dari kesekian kalinya.

Lasut tidak pernah menyerah. Berbekal bakat, kecerdasan, dan ilmu pengetahuan yang telah ia peroleh dari Techniche Hoogeschool Te Bandung, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Dienst van den Mijnbouw atau Kantor Pertambangan. Bahkan, Lasut kemudian ditunjuk sebagai asisten geologi.

Pakar Tambang dan Geologi

Ketika Jepang menyerbu Indonesia pada tahun 1942 yang membuat Belanda harus meninggalkan Indonesia, Lasut juga mengangkat senjata untuk menghadapi serangan itu, termasuk dalam pertempuran di Ciater, dekat Subang, Jawa Barat (Pranadipa Mahawira, cinta pahlawan nasional Indonesia 2013: 112). Lasut ditangkap dan ditahan oleh Jepang dalam peristiwa ini.

Jepang akhirnya benar-benar menduduki Indonesia, mengambil alih pengaruh yang telah dikendalikan oleh Belanda. Lasut sendiri kemudian dilepaskan, bahkan dipekerjakan di Chorisitsu Chosayo (layanan geologi) yang didirikan oleh pemerintah militer Jepang di Bandung. Rupanya Jepang tahu bahwa Lasut adalah pria muda yang sangat baik dalam hal penambangan.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, lembaga pemerintah yang awalnya dimiliki oleh Jepang diambil alih sesuai dengan instruksi Presiden Sukarno. LASUT juga mendirikan Kantor Pertambangan dan Geologi Pertama Republik Indonesia (A. K. Bowden, et.al., Tengara dalam foraminiferal Mikropalaeontologi: Sejarah dan Pengembangan, 2013: 196). Bahkan, dia kemudian ditunjuk sebagai kepala kantor.

Namun, Lembaga Kepemimpinan Lasut harus bergerak dengan kembalinya kolonial lama ke Indonesia yang memicu berbagai front pertempuran. Dari Bandung, layanan pertambangan dan geologi dipindahkan ke Tasikmalaya, kemudian beringsut lagi ke Magelang, dan akhirnya ditempatkan di Yogyakarta yang pada waktu itu menjadi ibu kota Republik Indonesia.



Pahlawan Pembela Kemerdekaan

Lassut juga berpartisipasi dalam revolusi fisik. Ini telah menjadi bagian dari kegiatan independensi dengan membentuk layanan rakyat Indonesia Sulawesi atau Kris (kata Julinar, Triana Wulandari, dan Sri Sutjiningh, National Heroes Encyclopedia, 1995: 66). Selain itu, ia juga menjadi anggota Komite Nasional Nasional Indonesia (HNIP).

Selain ingin bisa menjadi lagi di Indonesia, Belanda juga ingin menyeret sumber daya alam di kepulauan yang memang berlimpah. Karena itu, Belanda membujuk lassu untuk bekerja bersama. Belanda benar-benar memahami bahwa lasut adalah orang yang benar-benar memahami rahasia isi nilai besar tanah Indonesia.

Lassut selalu menentang penawaran itu dengan baik meskipun aktivitas berbagai fasilitas, kenyamanan, uang. Sebaliknya, ia dan Kris bahkan lebih gigih dalam perjuangan untuk mengusir Belanda Indonesia. Tidak hanya itu, lasut juga memanaskan Belanda, ia bermanuver dengan berkolaborasi dengan investor lain untuk mengelola sumber daya alam Indonesia.

Tindakan laser ini mau tidak mau membuat Belanda Pitam. Pagi-pagi pada 7 Mei 1949, beberapa tentara Belanda khusus menculik lasut yang, pada saat itu, Domicila di Yogyakarta. Dia kemudian dibawa ke PAKEM, Sleman. Di suatu tempat tidak jauh dari Gunung Merapi, Lasut telah ditembak jatuh.

Kehidupan lasut terungkap ketika dia hanyalah kepala tiga kepala. Peristiwa tragis terjadi kurang dari setahun sebelum Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia melalui konferensi meja bundar. Pada tanggal 20 Mei 1969, pemerintah memberikan Arie Frederik Lasut dengan gelar pahlawan pembela kemerdekaan.

source : today.line.me

Share this

Previous
Next Post »
Give us your opinion